Menu

Mode Gelap
Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram Selamat Tahun Baru Muharram 1446, Puisi Gus Mus KH. Mushtofa Bisri PBNU Buka Pendaftaran Beasiswa S1 ke Al-Azhar Mesir, Ini Ketentuan dan Cara Daftarnya Khutbah Jum’at Tahun Baru Islam Pengurus NU Pulodarat Ikuti Pelatihan Desain Grafis di BLKK MWCNU Pecangaan

Dakwah · 28 Nov 2023 11:55 WIB ·

Sejarah Perjuangan NU Membela Palestina


 Sejarah Perjuangan NU Membela Palestina Perbesar

Sejarah Perjuangan NU Membela Palestina

Spread the love
Sejarah Perjuangan NU Membela Palestina

Sejarah Perjuangan NU Membela Palestina

Sejak sebelum Nahdlatul Ulama (NU) resmi dideklarasikan sebagai sebuah organisasi (jam’iyah) pada 16 Rajab 1344 H bertepatan 31 Januari 1926, para ulama pesantren menaruh perhatian besar terhadap hak-hak kemanusiaan.

Termasuk hak kemerdekaan bagi seluruh bangsa. Sebab itu, sedari awal perjuangan pesantren tidak hanya menempa masyarakat dengan ilmu-ilmu agama, tetapi juga membangunkan kesadaran mereka untuk berjuang melepaskan diri dari kolonialisme.

Selain melakukan berbagai gerilya perjuangan melawan kolonial Belanda maupun Jepang, kiai-kiai pesantren juga menaruh perhatian besar terhadap kemerdekaan rakyat Palestina dari penjajahan kaum Zionis. Perhatian pada kiai pesantren ini nantinya dibalas oleh rakyat Palestina ketika mereka menjadi negeri pertama yang mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 M, bertepatan 9 Ramadhan 1364 H. Tidak tahan terhadap penjajahan kaum Zionis terhadap rakyat Palestina, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah pimpinan KH Mahfudz Shiddiq pada 12 November 1938 M, bertepatan 19 Ramadhan mengedarkan seruan kepada seluruh ormas Islam di Indonesia. Seruan yang diinisiasi NU tersebut mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk mengambil sikap tegas atas apa yang dilakukan oleh bangsa Yahudi. NU menyerukan kepada umat Islam agar bahu-membahu dengan rakyat Palestina dalam memperjuangkan agama dan kemerdekaan tanah air mereka dari cengkeraman kaum penjajah dan komplotan Zionisme. (baca KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, 2013: 426)

Gerakan perlawanan juga dilakukan dengan kegiatan ‘Palestina Fons’ (Dana Palestina) sebagai bantuan untuk meringankan beban perjuangan dan penderitaan rakyat Palestina. Bukan hanya dengan penggalangan dana, tetapi cabang-cabang NU di seluruh Indonesia juga melakukan gerakan ‘Pekan Rajabiyah’. Gerakan tersebut atas instruksi PBNU agar setiap tanggal 27 Rajab sebagai ‘Pekan Rajabiyah’. Sebuah pekan yang menggabungkan perayaan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina merdeka. Kepada seluruh warga NU dan umat Islam pada umumnya, PBNU menganjurkan agar tiap-tiap shalat fardhu membaca qunut nazilah. Anjuran yang dibuat PBNU itu membuat KH Mahfudz Shiddiq dipanggil regent (bupati) Surabaya. Ia diberi tahu perintah Hoofdparket (setingkat jaksa agung) yang melarang qunut nazilah dan kegiatan Pekan Rajabiyah.

Hingga saat ini, ulama pesantren terus-menerus mendorong Pemerintah RI agar mengupayakan kedaulatan bangsa Palestina di tengah pendudukan, pencaplokan, dan blokade yang dilakukan orang-orang Israel. Kedaulatan diperoleh rakyat Palestina di meja Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, hal itu tidak sejurus dengan kondisi di lapangan, di mana rakyat Palestina masih terus berusaha memperoleh kedaulatannya. NU sebagai garda terdepan bersama ormas Islam lainnya dalam payung Partai Masyumi pada 18 Desember 1947 melangsungkan sidangngnya di Yogyakarta untuk membahas masalah Palestina secara khusus (KH Saifuddin Zuhri, 2013: 430). Adapun keputusan yang diambil sebagai berikut:

Pertama, menganjurkan kepada seluruh bangsa Indonesia untuk membantu perjuangan Palestina.

Kedua, menganjurkan kepada Pemerintah Republik Indonesia agar menetapkan sikapnya membantu perjuangan bangsa Arab di Palestina. Ketiga, mengharap agar Dewan Keamanan PBB meninjau kembali keputusan pleno PBB tentang pembagian Palestina yang menjadi sebab terganggunya ketenteraman dunia.

Dilema Kepemimpinan di Palestina Kini Di tengah perjuangannya melawan agresi Belanda di Tanah Air, KH Saifuddin Zuhri sendiri secara khusus menulis buku Palestina. Perjuangan rakyat Palestina dirasakan betul oleh KH Saifuddin Zuhri, salah seorang tokoh NU yang hidup di zaman penjajahan, pergerakan nasional, Sekjen PBNU hingga pada akhirnya menjabat Menteri Agama di akhir-akhir era kepemimpinan Bung Karno. Sebab, ia sendiri merasakan betapa pentingnya dukungan Palestina sebagai negara pertama yang mengakui kedaulatan RI. Penjajahan yang dialami rakyat Palestina menginspirasi Kiai Saifuddin Zuhri untuk menulis buku yang diberi judul Palestina dari Zaman ke Zaman pada Desember 1947. Buku tersebut lahir ketika Indonesia masih dalam suasana revolusi bangsa, di tengah-tengah ibu kota Republik Indonesia yang karena berbagai pertimbangan strategis berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta.

Namun, Kiai Saifuddin Zuhri mengungkapkan, sayangnya buku yang penerbitannya disponsori oleh Perpustakaan Islam Yogyakarta tersebut bernasib buruk. Belum sempat edar, masih dalam penyelesaian akhir dalam percetakan, tapi sudah porak-poranda akibat agresi Belanda atas Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Dalam Berangkat dari Pesantren (LKiS, 2013: 422), KH Saifuddin Zuhri menjelaskan bahwa buku tentang Palestina yang ditulisnya itu selesai pada Desember 1947. Buku tersebut diterbitkan oleh PB Nahdlatul Ulama yang ketika telah hijrah dari Surabaya ke Pasuruan. Karena gerakan militer Belanda, akhirnya PB Nahdlatul Ulama berpindah kembali dari Pasuruan ke Madiun, bertempat di Jalan Dr Sutomo 9 Madiun.

Proyek Zionis di Balik Serangan Israel ke Palestina? Buku tersebut dicetak oleh Percetakan “Persatuan” Yogyakarta atas sponsor dari Haji Abubakar, pemimpin Perpustakaan Islam di Yogyakarta. Kata pengantar buku tersebut ditulis oleh Ismail Banda, MA, seorang diplomat muda, duta besar Indonesia untuk Afghanistan, mantan pemimpin pergerakan mahasiswa Indonesia di Kairo, Mesir. KH Saifuddin Zuhri memulai penulisan buku setebal 84 halaman itu dengan sejarah Palestina menjadi negeri Arab pada zaman Khalifah Umar bin Khattab (586 M-644 M). Sebuah negeri Arab yang telah berumur 14 abad. Bilangan masa yang jauh lebih tua dibanding dengan Amerika sebagai negerinya bangsa-bangsa Amerika-Anglo, Amerika-Spanyol, Amerika Portugis, Haiti, dan lain-lain. Penulis: Fathoni Ahmad Editor: Muchlishon

Sumber: https://www.nu.or.id/fragmen/sejarah-perjuangan-nu-membela-palestina-PXftV

___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/iOS)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Baca Lainnya

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram

6 July 2024 - 09:02 WIB

Doa Akhir Tahun NU Pulodarat

PBNU Buka Pendaftaran Beasiswa S1 ke Al-Azhar Mesir, Ini Ketentuan dan Cara Daftarnya

5 July 2024 - 04:29 WIB

PBNU Buka Pendaftaran Beasiswa S1 ke Al-Azhar Mesir, Ini Ketentuan dan Cara Daftarnya

Pengurus NU Pulodarat Ikuti Pelatihan Desain Grafis di BLKK MWCNU Pecangaan

4 July 2024 - 13:30 WIB

Pengurus NU Pulodarat Ikuti Pelatihan Desain Grafis di BLKK MWCNU Pecangaan

BLKK MWC NU PECANGAAN adakan Pelatihan Desain Grafis Gratis

3 July 2024 - 13:22 WIB

BLKK MWC NU PECANGAAN adakan Pelatihan Desain Grafis Gratis

Mustasyar MWCNU Pecangaan, Kyai Kutu Buku NU Wafat

10 June 2024 - 02:59 WIB

NU Pulodarat Ucapan Turut Berduka Cita KH. M. Zamazi

Sebelas Anggota Ahwa Ditentukan oleh Usulan Sesepuh NU Pulodarat pada Hasil Mufakat MUSAR PARNU

1 May 2024 - 01:09 WIB

Undangan Pembentukan AHWA-MUSAR_PARNU Pulodarat_25042024
Trending di Kaderisasi NU