Menu

Mode Gelap
Para Pejuang Agama Penggerak NU Di Pulodarat Pecangaan Selamat Pengurus GP-Ansor Kudus Sahabat Budi Utomo Terpilih Menjadi Ketua KLBI Pusat KEUTAMAAN MEMBACA RIWAYAT PARA AULIYA’ Hikmah dan Urgensi Mempelajari Sejarah Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram

Ketentuan dan Kebijakan Privacy

Spread the love

Salam Redaksi

Assalamualaikum Wr Wb
Salam dari Redaksi……

Bersyukur akhirnya NU Pulodarat masa khidmah 2021-2025 telah dilantik pada 31 Januari 2021. Setelah itu, disusul dengan pembentukan dan pelantikan pengurus semua lembaga. Kepengurusan baru lantas intensif menggelar koordinasi, termasuk program kerja selama tiga tahun untuk 2021-2023. Terlebih itu bersamaan dengan agenda beragam kegiatan Hari Lahir (Harlah) ke-99 NU yang diselenggaran kepanitiaan khusus oleh NU Jepara.

Di sela-sela kesibukan itu, Lembaga Ta’lif wa an Nasyr (LTN) menggarap sejumlah program, mulai dari menggelar Madrasah Multimedia hasil kerjasama dengan APC/MWC NU Kedung hingga meningkatkan performa web resmi sebagai jendela informasi segala kegiatan yang bertalian langsung maupun tidak dengan NU. Masyarakat dimana pun, terlebih nahdliyin di Jepara maupun di luar daerah, bisa mengakses segala informasi-informasi tersebut di www.nupulodarat.or.id.

Dengan performa yang terus membaik, web milik Nu Pulodarat yang dikelola LTN dengan menggandeng semua lembaga, badan otonom, dan lajnah di NU ini bisa menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat, terutama kaum nahdliyin tentang kiprah NU.

Di antara menu yang kami sajikan adalah beragam agenda kegiatan NU, berita-berita rutin soal aktivitas NU Pulodarat beserta banom dan lembaga-lembaganya, opini atau artikel, resensi buku, juga dinamika desa. Khusus menu “Desa”, sengaja kami hadirkan karena basis kegiatan masyarakat ada di kelurahan dan desa. NU sebagai organisasi yang memiliki keberpihakan besar terhadap pemberdayaan di desa, tentu berkepentingan untuk menghadirkan dinamika di desa yang informatif dan inspiratif. Ada juga menu figur, mengetengahkan sosok yang dipandang bisa menjadi teladan dan punya jasa terhadap umat.

Terhadap beragam menu, pengelola juga menerima beragam informasi dari masyarakat, khususnya nahdliyin ke email resmi kami: nupulodarat@gmail.com. Tim redaksi akan menyeleksi, serta menata informasi-informasi yang dinilai perlu untuk diketengahkan ke publik.

Kami akan menjaga semangat untuk melayani kebutuhan informasi, terutama warga nahdliyin. Semoga niat baik NU Pulodarat dalam mengelola peristiwa ke dalam layanan informasi ini mendapat ridha Allah SWT.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Sejarah Singkat Berdirinya NU

Nahdatul Ulama atau yang disingkat dengan NU menurut penanggalan Hijriah pada tahun 2023 berusia 100 tahun atau satu abad. Organisasi ini berdiri pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926 M.

NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial dan ekonomi. Sejak awal pendiriannya, NU dari waktu ke waktu berkontribusi besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, dan kini para anggotanya terlibat aktif dalam pembangunan di berbagai bidang.

Melansir dari NU.or.id bahwa berdirinya NU merupakan rangkaian panjang dari sejumlah perjuangan. Karena berdirinya NU merupakan respons dari berbagai problem keagamaan, peneguhan mazhab, serta alasan-alasan kebangsaan dan sosial-masyarakat.

Pendirian NU dibentuk oleh para kyai ternama asal Jawa Timur yang digawangi oleh KH Wahab Chasbullah, sebelumnya para kiai pesantren telah mendirikan organisasi pergerakan Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air pada 1916 M, serta Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar pada 1918 M.

Kiai Wahab Chasbullah pada tahun 1914 M juga mendirikan kelompok diskusi yang ia beri nama Tashwirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran, ada juga yang menyebutnya Nahdlatul Fikr atau kebangkitan pemikiran. Dengan kata lain, NU adalah lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, namun dengan cakupan dan segmen yang lebih luas.

Hingga saat ini, yang biasa disebut sebagai pendiri NU adalah tiga kiai besar asal Jawa Timur. Meski di luar mereka ada sederet nama lainnya yang turut berperan di awal-awal terbentuknya NU. Berikut ini tiga kiai asal Jombang tersebut:

1. KH Hasyim Asy’ari
2. KH Abdul Wahab Chasbullah
3. KH Bisri Syansuri

Mengapa mereka bertiga? Karena mereka yang berperan banyak di awal pembentukan NU. Mereka juga pimpinan tertinggi NU waktu itu.

Kiai Hasim Asy’ari adalah pemimpin tertinggi pertama yang disebut sebagai rais akbar. Disusul rais aam kedua yakni Kiai Wahab Chasbullah dan rais aam ketiga, Kiai Bisri Syansuri.

NU berkembang pesat dan sangat terjaga. Kini, NU menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia, hidup berdampingan dengan berbagai kelompok Islam lainnya.

KHITTAH  NU :

Gagasan kembali ke Khittah NU semakin nyata setelah Munas Alim Ulama di Kaliurang tahun 1981 dan di Situbondo tahun 1983.

Pada Munas Alim Ulama di Situbono itu bahkan dibentuk “Komisi Pemulihan Khittah NU”. Komisi ini dipimpin KH Chamid Widjaya, sekretaris HM Said Budairi, dan wakil sekretaris H. Anwar Nurris. Komisi ini berhasil menyepakati “Deklarasi Hubungan Islam dan Pancasila,” kedudukan ulama di dalamnya, hubungan NU dan politik, dan makna Khittah NU 1926. Hasil-hasil dari Munas Alim Ulama ini kemudian ditetapkan sebagi hasil Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984 setelah melalui diskusi dan perdebatan yang intens. Muktamar NU di Situbondo inilah yang berhasil memformulasikan rumusan Khittah NU.

Formulasi rumusan Khittah NU di Situbondo ini sangat monumental karena menegaskan kembalinya NU sebagai jam`iyah diniyah-ijtima`iyah. Rumusan ini mencakup pengertian Khittah NU, dasar-dasar paham keagamaan NU, sikap kemasyarakatan NU, perilaku yang dibentuk oleh dasar-dasar keagamaan dan sikap kemasyarakatan NU, ihtiar-ihtiar yang dilakukan NU, fungsi ulama di dalam jam`iyah, dan hubungan NU dengan bangsa.

Dalam formulasi itu, ditegaskan pula bahwa jam`iyah secara orgnistoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatn manapun. Sementara dalam paham keagamaan, NU menegaskan sebagai penganut Ahlussunnah Waljama`ah dengan mendasarkan pahamnya pada sumber Al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas. Dalam menafsirkan sumber-sumber itu, NU menganut pendekatan madzhab dengan mengikuti madzhab Ahlussunnah Waljama`ah (Aswaja) di bidang akidah, fiqih dan tasawuf.

  • Di bidang akidah, NU mengikuti dan mengakui paham Aswaja yang dipelopori Imam Abu Hasan al-Asy`ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.
  • Di bidang fiqih NU mengakui madzhab empat sebagai paham Aswaja yang masih bertahan sampai saat ini.
  • Di bidang tasawuf NU mengikuti imam al-Ghazali, Junaid al-Baghdadi, dan imam-imam lain. Dalam penerapan nilai-nilai Aswaja, Khittah NU menjelaskan bahwa paham keagamana NU bersifat menyempurnakan nilai-nilai yang baik dan sudah ada. NU dengan tegas menyebutkan tidak bermaksud menghapus nilai-nilai tersebut. Dari sini aspek lokalitas NU sangat jelas dan ditekankan.
  • Dalam sikap kemasyarakatan, Khittah NU menjelaskan 4 prinsip Aswaja: tawasut (sikap tengah) dan i’tidal (berbuat adil), tasamuh (toleran terhadap perbedaan pandangan), tawazun (seimbang dalam berkhidmat kepada Tuhan, masyarakat, dan sesama umat manusia), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan).
  • Fungsi ulama juga ditegaskan kembali oleh Khittah NU sebagai rantai pembawa paham Islam Ahlussunnah Waljama`ah. Ulama dalam posisi itu ditempatkan sebagai pengelola, pengawas, dan pembimbing utama jalannya organisasi.
  • Fungsi ulama ini tidak dimaksudkan sebagai penghalang kreativitas, tetapi justru sebaliknya: untuk mengawal kreativitas. Dalam hubungannya dengan kreativitas itu, Khittah NU menyebutkan bahwa jam`iyah NU harus: siap menyesuaikan diri dengan setiap perubahan yang membawa kemaslahatan; menjunjung tinggi kepeloporan dalam usaha mendorong, memacu, dan mempercepat perkembangan masyarakat; menjunjung tinggi kebersamaan masyarakat; menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan para ahlinya.
  • Khittah NU juga menegaskan aspek penting kaitannya dengan bangsa. Dalam soal ini, setiap warga NU diminta menjadi warga negara yang senantiasa menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 45. Sebagai bagian dari umat Islam Indonesia, masyarakat NU diminta senantiasa berusaha memegang teguh prinsip persaudaraan, tasamuh, kebersamaan dan hidup berdampingan. Ini disadari karena Indonesia dan umat Islam Indonesia sendiri sangat majemuk.
  • Tampak sekali cita-cita Khittah NU yang diformulasikan tahun 1984 itu begitu luhur. Juga tampak Khittah NU menegaskan posisinya sebagai gerakan sosial keagamaan yang akan mengurus masalah-masalah umat. Hanya saja, dalam praktik, tarikan politik praktis selalu menjadi dinamika yang mempengaruhi eksistensi jam`iyah NU. Di titik-titik demikian, Khittah NU selalu menghadapi kenyataan krisis, pertarungan internal, dan sekaligus dinamis di tengah kebangsaan dan dunia global

Hubungi Kami

Sekretariat  1 : Jl. Regukelampitan KM. 1,7  RT. 04/01 Pulodarat Pecangaan Jepara 59462

Sekretariat  2  : Jl. Raya Jepara-Kudus KM. 21  Pulodarat RT/RW. 21/02 Pecangaan  Jepara 59462

Phone : (0291) 7560 – 511 Mobile :  0821-3589-2121

Website : www.nupulodarat.or.id . Email  :  nupulodarat@gmail.com

Berjuang & Berkarya

JADILAH MANUSIA YANG BISA MEMANUSIAKAN MANUSIA

ITULAH SEBENARNYA HAKIKAT DARI SEBUAH KESUKSESAN, YAITU MENJADI MANUSIA YANG BISA BERMANFAAT UNTUK SESAMA, DAN SEMUA STAKEHOLDER

SUKSES ITU CARA KAMU MENAMAI HASIL YANG TIDAK SESUAI KEHENDAKMU

TAPI SESUAI DENGAN KEHENDAK-NYA

Usaha menentukan Hasil, Tidak ada yang instan didunia ini, semua butuh proses dan perjuangan

Berkawanlah dengan orang-orang yang lebih baik darimu. Pilihlah sahabat-sahabat yang memiliki kepribadian lebih baik darimu, maka anda akan mencoba melakukan hal yang sama